Home / Artikel / Opini / Mencoba Memahami Sebagian Umat Islam yang Berada di Barisan Musuh

Mencoba Memahami Sebagian Umat Islam yang Berada di Barisan Musuh

SAMPAI sekarang saya masih belum paham kenapa kok ada orang yang mengaku muslim tapi ketika pemilihan pemimpin di masyarakat yang dipilih adalah pemimpin non-muslim. Saya berusaha berpikir apa sebenarnya yang menjadikan alasan mereka berbuat demikian, padahal didalam Islam jelas-jelas hukum memilih pemimpin kafir sangatlah diharamkan.

Berikut ini sebagian dari dalil ayat Al-Quran yang mengharamkan memilih pemimpin kafir:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (QS. 3. Ali ‘Imraan : 28.)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” QS. 4. An-Nisaa’ : 144.)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” QS. 5. Al-Maa-idah : 57.)

****

Padahal ayatnya begitu jelas. Tidak menggunakan tafsir dari buku-buku tafsir ulama pun sudah bisa kita pahami secara langsung bahwa hukum memilih pemimpin kafir adalah sangat terlarang. Bahkan ancaman bagi mereka yang muslim tapi tetap nekad memilih juga sudah sangat jelas disampaikan diatas. Diantara ancaman tersebut adalah:

  1. Allah akan melepaskan pertolongan-Nya kepada orang tersebut.
  2. Allah akan menyiksanya (kelak di dunia dan di akhirat).

Apakah sulit memahami kalimat yang sederhana dari 3 ayat diatas?

Apakah sulit memahami 2 poin ancaman Allah yang terkandung didalamnya?

***

Saya pikir seluruh manusia normal mampu mencerna hal itu. Lalu kenapa mereka tetap memilih pemimpin kafir?

Hemat saya ini adalah masalah keimanan. Mereka mengaku beragama Islam dari sebenarnya mereka tidak beriman.

Pertama, secara jelas mereka tidak beriman kepada Al-Quran. Baik sebagian, maupun keseluruhan. Mereka tidak mau taat dan tunduk kepada Al-Quran yang (padahal) menjadi syarat yang harus diimani dalam Rukun Iman (yaitu iman kepada Kitab-kitab Allah).

Kedua, mereka tidak mau taat kepada Allah Ta’ala. Karena Al-Quran adalah firman Allah Ta’ala. Ketika mereka tidak beriman kepada Al-Quran, berarti mereka tidak beriman juga kepada Allah Ta’ala. Meskipun mulut mereka berucap syahadat, tapi syahadat itu hanya sebatas di mulut mereka saja. Mereka tidak membuktikannya dalam bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Islamnya sebatas yang tertulis di KTP.

Padahal dalam Islam, kekufuran itu satu paket. Mengkufuri satu rukun iman atau rukun Islam yang mana saja, tetap dikatakan kafir. Karena satu rukun pasti berkaitan dengan rukun yang lain. Mengkufuri satu ayat Al-Quran, sama dengan mengkufuri kesuluruhan isi Al-Quran, itu juga berarti mengkufuri Allah sebagai pemilik firman-firman tersebut, sekaligus mengkufuri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang membawanya.

Mari kita lihat dalam Al-Quran surat An-Nisaa’ 150-151:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepadasebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)”, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.

Disitu jelas bahwa mengkufuri sebagian saja, kalau itu hal prinsip dalam Islam, maka sama saja masuk kategori kafir.

Maka dari itu, bukan hanya menyalahkan para pemilih pemimpin yang jelas-jelas kafir dan penghina Islam, kita sendiri patut waspada dengan keimanan kita sendiri. Sudahkah kita beriman secara totalitas? Atau hanya sebatas KTP?

Takutlah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menolak pengakuan keimanan sekelompok orang Badui yang datang kepadanya. Orang-orang Badui itu mengaku beriman, namun Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menolaknya. Allah Ta’ala tahu bahwa sebenarnya mereka belum beriman, karena iman itu belum masuk kedalam hatinya. Cerita ini diabadikan dalam Al-Quran di Surat Al-Hujuraat ayat 14:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 

Semoga Allah meneguhkan iman kita, dan segera menyadarkan para kaum muslimin yang masih berada dibarisan orang-orang kafir. Aamiin.*[]

Oleh: Smokefreeyouth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *