Home / Artikel / Cerita Hijrah / Ketua Geng Motor ‘Brigez’ Hijrah dari Jeratan Narkoba Setelah Kehilangan Ayah
Kiki 'Brigez'

Ketua Geng Motor ‘Brigez’ Hijrah dari Jeratan Narkoba Setelah Kehilangan Ayah

Peci dan kalung sorban kini melekat di tubuh Kiki Ahmad (31). Mantan anggota geng motor Brigez dan bandar narkorba ini sudah bertobat. Ditemui detikcom di Masjid Al Lathiif, Kiki berbagi kisah hijrahnya dari lembah hitam.

Sejak SMP kiki bergabung dengan Brigez. Lingkungan sekitarnyalah yang membuat Kiki terjerumus ke pergaulan hitam. Posisi Kiki dalam geng motor yang dikenal beringas itu cukup tinggi, dia punya anak buah dan pasukan.

“Di lingkungan saya di Cihampelas banyak anak-anak Brigez, jadi saya masuk ikutan. Dari situlah saya sering ribut-ribut dan narkoba,” kisah Kiki saat ditemui usai salat dzuhur di Masjid Al Lathiif, Senin (10/8/2015).

Gara-gara ulahnya membuat keributan, Kiki juga pernah merasakan dinginnya jeruji besi. Namun Kiki masi beruntung karena orang tuanya masih berupaya untuk membantunya keluar dari penjara.

“Pernah keluar masuk, biasalah ditebus. Nggak terlalu sering keluar masuk (penjara) juga karena saya cukup mengambil pelajaran. Berhati-hati. Ya paling ribut sama musuh, dzalimlah intinya mah,” ungkap Kiki.

Berbeda dengan Bayu Ruben ‘Kemod’ yang dipenjara karena pernah membunuh, kenakalan Kiki lebih dekat dengan dunia narkoba. Kiki pernah kecanduan barang haram jenis putaw. Bahkan Kiki mengaku pernah menjadi bandar untuk bisa terus mengonsumsi barang tersebut dari keuntungan berjualan.

“Kelas 1 SMP, saya udah minum, ganja. Jadi bandar waktu mau keluar SMA. Waktu itu setelah SMP saya dipindahkan ke Sukabumi, mungkin orang tua saya berpikir kalau jauh saya enggak nakal. Padahal di Sukabumi teman saya ada yang bandar, malah lebih mudah di sana. Saat itu saya pikir bukan keuntungan, tapi saya bisa dapat barang dari jualan,” bebernya.

Sampai akhirnya, pintu tobat mulai terbuka untuk Kiki sekitar 7 tahun lalu. Saat itu sahabat-sahabatnya satu persatu tewas karena kecanduan narkoba. Namun yang membuat hidup Kiki benar-benar berubah, saat ayahnya meninggal dunia. Penyesalan yang mendalam membuat Kiki ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Selama hidup saya itu paling menyusahkan orang tua. Tapi ayah saya paling sabar menghadapi saya. Saya menjengkelkan tapi ayah saya begitu sabar. Sejak itulah saya mengambil hikmahnya,” ujarnya lirih.

Takut dengan Kematian yang Mengintai

Ditinggal Ayah dan sahabat-sahabatnya lebih dulu menghadap yang maha kuasa, Kiki mulai berpikir bahwa kematian begitu dekat dengan siapapun. Sejak orang-orang terdekatnya itu meninggal, hati Kiki bergejolak, Ia tak mau mati konyol saat sedang mabuk atau dalam keadaan tidak baik.

“Dulu banyak teman-teman di Brigez yang kecanduan putaw, banyak yang meninggal. Suatu waktu saya berpikir, kalau saya tidak berhenti, saya bisa saja mati dalam keadaan yang kurang baik,” kata Kiki.

Kematian yang membawa Kiki kembali ke jalan yang lurus. Apalagi, Kiki adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Kakak dan adiknya perempuan, Kiki pun jadi laki-laki harapan satu-satunya sang Ibu.

“Saya pemimpin laki-laki satu-satunya di rumah setelah ayah saya. Tapi saya tidak baik. Mungkin dengan ayah saya meninggal, Allah memberi kesempatan saya untuk berubah. Itu (kematian ayah) jadi puncak kejadian yang harus bikin saya berubah,” tuturnya.

Sejak itu, semesta seolah mendukung. Kiki diajak oleh temannya yang kebetulan sudah lebih dulu hijrah untuk sering datang ke masjid. Meskipun awalnya masih malas-malasan, namun akhirnya kaki Kiki saat ini menjadi sering melangkah ke masjid.

“Dulu awalnya diajak teman, yang dulu pernah nakal tapi sudah bertobat. Asalnya sulit saya ikut dia, tapi atas izin Allah dan dia juga mendoakan, saya pelan-pelan mau,” kisahnya.

Ketika masih berlabel anak nakal, Kiki sempat juga dijauhi keluarganya. Banyak yang tidak suka dengan perilaku Kiki. Namun kini, keluarganya mulai tenang saat Kiki menunjukan banyak perubahan menuju kebaikan.

“Pada awalnya keluarga lingkungan juga sanksi, tidak percaya. Tapi dengan seiring waktu, ditunjang dengan pola pikir dan perilku mereka percaya. Emang susah. Dulu saya disegani karena mungkin suka mabuk. Tapi pelan-pelan akhirnya mereka juga sadar. Waktu acara Brigez Berzikir saya ajak keluarga saja juga,” urainya.

Kini Berjualan Koko dan Madu

Sepuluh tahun lebih Kiki terjerumus mengkonsumsi barang haram narkoba. Sulit baginya untuk melepaskan barang yang membuat kecanduan tersebut. Kiki tidak datang ke tempat rehabilitasi, Ia berjuang sendirian lepas dari jeratan narkoba.

“Dulu saya mengalihkan ke yang lebih ringan dengan minuman. Karena saya sudah sadar, saya tetap solat. Banyak yang bilang doa saya enggak akan diterima. Tapi kan hanya Allah yang tahu, yang penting hati kita niat mau berubah,” ujar Kiki.

Perjuangan Kiki cukup panjang, lima tahun dia baru benar-benar bisa terlepas dari narkoba. Kiki bersyukur, doa-doanya dan doa ibunya dikabulkan. Kini Kiki tak lagi mengonsumsi barang haram itu.

“Menghilangkan kecanduan itu selama 5 taun, cukup lama lah. Jadi saat itu saya doa, doa, usaha, doa. Alhamdulillah dengaan kesabaran itu akhirnya bisa. Saya juga minta doa ke orang tua supaya bisa menjadi baik,” ungkapnya.

Pensiun jadi bandar narkoba, Kiki kini beralih ke bisnis yang halal. Kiki mencoba bisnis kecil-kecilan dengan berjualan madu dan pakaian koko. “Yaa usaha sampingan. Ada teman saya yang bikin baju koko dan madu, saya tawar-tawarin ke teman-teman terdekat dulu. Saya percaya ketika kita tawakal, maka Allah akan membantu,” katanya optimis.
[Avitia Nurmatari/Mad/detik.com]

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *