Home / Artikel / Opini / Jauh Melampaui Straight Edge

Jauh Melampaui Straight Edge

SAYA mengenal straight edge sejak saya mengenal Minor Threat sekitar tahun 1997-an. Saya merasa gaya hidup itu keren, karena disaat kebanyakan orang memberikan stigma negatif terhadap hardcore punk sebagai subkultur yang identik dengan alkohol, rokok, seks bebas, dan narkotika, di dalam straight edge justru saya mengenal kebalikannya: sebuah subkultur hardcore punk yang bersih, terbebas dari hal-hal negatif tadi.

Tapi jujur, saya nggak terlalu sulit untuk menjalankan gaya hidup straight edge ketika itu. Karena sejak kecil, orang tua saya sudah cukup banyak mendidik saya agar menjadi seorang muslim. Iya, saya seorang muslim, yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga muslim pula. Menurut saya dulu, nggak terlalu sulit menjalankan straight edge, karena dalam agama kami sudah melarang alkohol, zina, rokok dan narkotika. Jadi saya sejak itu menyatakan diri sebagai penganut gaya hidup straight edge, yang sebenarnya kondisinya nggak terlalu jauh beda dengan sebelum saya memakai label itu.

Tapi saat itu saya merasa lebih keren. Lebih bangga. Lebih pede ketika datang ke gigs-gigs dan manggung, sambil memakai tanda “X” di punggung kepalan tangan kanan dan kiri. Nggak ada yang mencemooh. Nggak ada yang nyinyir melihat saya seperti itu. Sebagian besar teman-teman justru respek kalau ada yang benar-benar serius menjalani straight edge.

Namun hari demi hari saya semakin tertarik untuk mengkaji tentang straight edge. Semakin lama semakin berkembang dan semakin radikal. Kemudian beberapa musisi hardcore punk memadukan gaya hidup ini dengan agama-agama tertentu yang mereka anut. Lalu muncul-lah Hare Khrisna atau Khrisna-core, Christian-core, bahkan sampai ada yang mendeklarasikan Muslim-core. Pada intinya, mereka memadukan gaya hidup positif tersebut dengan ajaran-ajaran agama yang sama-sama mengajak untuk menjadi pribadi yang positif.

Disinilah pintu saya kemudian jadi lebih tertarik mendalami agama saya sendiri. Agama Islam. Sebuah agama yang sebenarnya sudah saya anut sejak saya kecil. Saya belajar tentang Islam lebih dalam tentang makna keikhlasan dalam beraktivitas. Terlebih dalam menjalani suatu pekerjaan. Kalau setiap aktivitas kita diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah Swt, maka aktivitas itu akan bernilai pahala.

Kemudian saya jadi lebih tahu bagaimana caranya mendapatkan keridhaan Allah Swt dalam aktivitas-aktivitas kita. Termasuk bagaimana cara agar aktivitas kita itu bisa mendatangkan pahala, balasan positif dari Allah Swt.

Pertama, aktivitas itu harus didasari dengan anggapan bahwa kita melakukan itu semata-mata karena Allah Swt yang memerintahkan kita untuk melakukannya. Bukan karena motif lain selain itu. Kalau melakukan sesuatu cuma karena kelihatan keren, itu berarti belum bener. Maka melakukan sesuatu yang benar adalah ketika kita melakukannya karena Allah Swt yang memerintahkannya.

Kedua, jika kita ingin melakukan suatu perbuatan, baik yang berupa keyakinan maupun ritual fisik, semuanya wajib didasarkan kepada apa yang sudah dicontohkan Rasulullah Saw. Kalau beliau saw mencontohkan atau mempraktekkan, maka kita ngikut. Kalau enggak, maka jangan bikin-bikin yang baru. Karena syaratnya agar amal kita diterima adalah harus sesuai dengan apa yang sudah dicontohkan Nabi Saw. Misal, para penganut straight edge biasanya menolak seluruh makanan yang berasal dari hewan. Mereka hanya mau memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian/vegan). Nah, hal ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan dalam beberapa ayat Al-Quran dan Hadits memerintahkan kita untuk memakan daging sembelihan hewan yang halal. Kalau nggak makan daging hanya karena alasan ingin jadi seorang straight edge militan, itu nggak dibenarkan dalam Islam. Yang boleh menjadi vegan hanya orang-orang yang secara khusus memiliki penyakit yang memang mewajibkan mereka hanya makan tumbuh-tumbuhan saja. Nah, kalo itu pengecualian.

Alhamdulillah, setelah paham dengan hal poin-poin diatas, saya jadi optimis untuk meninggalkan straight edge dan beralih secara totalitas ke ajaran Islam saja. Meskipun nggak terlalu signifikan juga bedanya. Saya tetap anti rokok, anti alkohol, anti zina, dan anti narkoba seperti saat saya masih straight edge, namun kali ini saya jauh lebih pede dan merasa lebih nyaman dengan niat dan motivasi yang baru. Saya sadar bahwa resep ini sudah ada sejak 1400 tahun sebelum Ian MacKaye bicara soal straight edge. Resep lama yang tidak pernah saya perhatikan.

Saya merasa menjadi muslim secara totalitas bisa jauh melampaui kehebatan straght edge, karena saya yakin bahwa setiap perintah dan larangan dalam Islam pasti memiliki hikmah yang luar biasa. Selain Allah Swt akan mencatat aktivitas kita sebagai aktivitas berpahala, ada hikmah-hikmah yang mungkin hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki iman di hatinya. Selamanya orang-orang diluar Islam nggak akan paham apa yang saya rasakan ini. Tapi tidak mengapa. Karena iman nggak bisa dipaksakan. *[]

Oleh: Aik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *