Home / Artikel / Opini / Dosa-dosa TAQWACORE: Menghina Otoritas Ulama (Bagian II)

Dosa-dosa TAQWACORE: Menghina Otoritas Ulama (Bagian II)

JIKA kita buka google, lalu kita ketikkan kata kunci “Taqwacore”, maka akan ada ratusan situs maupun blog di seluruh dunia yang mengulas tentang gerakan yang mengklaim dirinya ‘Punk Islam’ ini. Mulai dari situs-situs berita, sampai penelitian-penelitian ilmiah di universitas-universitas di Barat tentang subculture semuanya begitu antusias tertarik dengan gerakan ini.

Padahal dalam tulisan saya sebelumnya (Dosa-dosa Taqwacore I) saya sudah menjelaskan secara garis besar bagaimana sebenarnya penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, terutama dalam aspek prinsip-prinsip dasar dalam Islam. Inti dari tulisan saya tersebut sangat simpel, bahwa Taqwacore bukanlah representasi gerakan punk Islam! Titik!

Khusus dalam seri tulisan saya tentang Taqwacore ini memang sengaja saya buat beberapa pembahasan yang lebih spesifik tentang satu-persatu penyimpangan-penyimpangan yang Taqwacore lakukan. Semuanya insyaAllah akan saya sertakan bukti-bukti capture video, lirik lagu, ataupun kutipan statement-statement mereka di official website mereka.

Pembahasan seri ke-2 ini saya akan fokuskan pada sikap Taqwacore dalam menghina ulama dan melawan otoritas fatwanya.

Dalam video populer mereka berjudul “Taqwacore: The Birth of Punk Islam”, pada 1 menit pertama video ini dimulai kita akan menyaksikan salah satu band punk dalam komunitas ini yang show dengan meneriakkan kalimat dengan nada menghina, “music is haram!”. Tapi di sela-sela itu, disisipkan seorang muslim berkulit hitam yang mengatakan ,

“Music instruments like a guitar and piano, is not acceptable in Islam. Go to any syaikh. Ask any imam…”(Alat musik seperti gitar dan piano tidak diperbolehkan dalam Islam. Silakan bertanya pada ulama manapun, silakan bertanya pada imam manapun).

lalu seorang personel The Kominas memotong pembicaraan dengan berkata

“there is no shaikh, there is no imam in Islam. There isn’t anyone who is a higher authority than you are!”(Tidak ada ulama! Tidak ada imam dalam Islam! Tidak ada satupun orang yang memiliki otoritas terhadap dirimu kecuali dirimu sendiri!).

Di dalam tulisan ini saya tidak sedang membahas masalah khilafiyah yang terkait dengan apakah musik itu haram ataukah tidak. Sebelum kalian mendebat saya, silakan baca dulu buku karya Syaikh Yusuf Al-Qardhawy yang didalamnya ada beberapa halaman hasil diskusi beliau dengan Syaikh Al-Albani tentang hukum musik. Kalau sudah baca, silakan berpendapat.

Kembali lagi,… dalam tulisan ini saya ingin fokus membahas bagaimana komunitas Taqwacore ini menghina dan melawan otoritas ulama.

Dalam Islam, peran ulama adalah penting dalam membimbing umat ini untuk tetap lurus di jalan Allah. Menghormati ulama adalah kewajiban. Sedangkan menghinanya adalah dosa. Perintah akan wajibnya kita taat kepada ulama ada didalam Al-Quran Surat An-Nisaa’ 59:

” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (Qs. An-Nisa’ : 59)

Mengutip apa yang ditulis oleh DR. Ahmad Zain, bahwa dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah, Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.[1]

Yang maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut, menurut sahabat Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.[2]

Kalaupun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama-ulama Islam, selama perbedaan itu hanya bersifat cabang (furu’) atau perbedaan mahzab fikih saja, tetap saja hukumnya haram bagi kita menghina pendapat ulama yang lain.

Selain mereka tidak menghormati ulama, dari video itu, jelas bahwa sejak awal audiens didoktrin bahwa menjadi seorang muslim itu harus liberal (bebas). Tidak boleh ada otoritas yang bisa menentukan mana yang benar atau mana yang salah di dalam beri-Islam. Ide pemikiran seperti ini sama sekali bukan dari Islam. Pemikiran semacam adalah pemikiran kaum anarkis, yang konsep dasarnya adalah meniadakan atau tidak mengakui otoritas apapun yang menghalangi kebebasan manusia. Termasuk agama. Maka dari itu seorang anarkis tulen, pasti dia tidak beragama.[3] Kalimat yang diucapkan oleh personel The Kominas di awal video itu, persis sama dengan apa yang diucapkan oleh personel band punk anarkis asal Inggris, Crass, dalam lagu dan videonya “There is No Authority, But Yourself.” Dengan kata lain, nggak ada yang berhak mengatur-atur kehidupan kita, kecuali diri kita sendiri.

Sekarang saya tanya kepada anda, bagaimana mungkin kita ber-Islam tapi tidak mau diatur oleh syariat?? Bagaimana mungkin kita memeluk agama Allah Swt tapi tidak mau patuh kepada aturan Allah Swt?? Bagaimana mungkin kita mengaku “BERTAQWA” seperti yang dilabelkan oleh “TAQWACORE” tapi tidak menunjukkan akhlak yang Islami??

Jika memang begitu kenyataannya, mereka sama sekali tidak pantas melabeli diri mereka sebagai komunitas punk Islam! Karena pelabelan Islam dalam gerakan mereka adalah sama dengan menghina Islam itu sendiri! Saya sebagai seorang muslim merasa tidak terima agama saya difitnah dengan cara seperti itu! Maka dari itu, dengan tegas saya katakan, “BOIKOT TAQWACORE!”*[]

Oleh : Abdurrahman

[1] Mentaati ulama bukanlah ketaatan yang mutlak, artinya jika ulama itu mengajak untuk jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau tidak mengindahkan hukum Allah Swt, maka tidak wajib bagi kita untuk mengikutinya.

[2] Sedangkan menurut ulama tafsir, Ibnu Katsir, beliau berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan para umara (pemimpin Islam). Jika kita buka lagi perjalanan sejarah Islam pertama, memang banyak ulama yang sekaligus sebagai pemimpin. Sepertinya halnya Rosulullah saw, beliau adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

[3] Pembahasan tentang konsep anarkisme yang sangat kontradiktif dengan beragama dapat dibaca di tulisan saya berjudul “Jangan Bercanda, Mana Ada Anarkis Beragama.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *