Home / Artikel / Opini / “Band-cong”!

“Band-cong”!

Oleh: Randy Iqbal (vokalis Noise Addict)

Tak pernah terpikirkan sedikitpun untuk membentuk sebuah band agar dijadikan penopang hidup. Atau menjadikan band sebagai mata pencaharian. Maka pilihannya sebuah genre punk rock yang saya rasa paling cocok dan gahar. Jadilah ‘Noise Addict’ yang saya bentuk pada tahun 2002 silam.

Niatnya memang hanya untuk mengapresiasikan bakat dan kreatifitas ditambah keren-kerenan masa muda. Tema yang dibahas juga berupa kenakalan remaja dan kegilaan anak muda. Bukan cinta-cintaan apa lagi sedih-sedihan. Jadi beneran tidak bisa menghasilkan uang banyak dari band.

Tapi memang band cadas itu seharusnya jauh dari penawaran umum/mainstream, apa lagi terdapat kepentingan politik, atau berafiliasi dengan salah satu alat negara alias penguasa. Sebab band / musisi itu punya tugas berat yakni memberi pencerahan terhadap masyarakat serta melakukan kritisasi kepada seluruh oknum penindasan yang korbannya masyarakat pula.

Namun sayang, setelah seorang musisi yang bakal menjadi legend, bang Iwan Fals pun tidak segalak dahulu, bahkan cenderung mengarah pada keberpihakan yang berselimut istilah netral. Itu sudah sangat kentara sekali. Salah satunya misalnya kala teriakan tolak reklamasi Bali keras sekali, tapi enggan menolak reklamasi Jakarta.

Juga dimana ketika sikap hilangnya ghirah, saat hatinya bang Iwan Fals merasa biasa saja waktu Ahok menistakan surat Al Maidah di kepulauan Seribu. Saya sudah menulisnya disini~> https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10202494380836880&id=1715760268&set=a.10201609837323845.1073741828.1715760268

Ditambah pura-pura buta kala Rais Aam PBNU KH. Maruf Amin yang mana merupakan ketum MUI diintervensi tanpa adab oleh Ahok.

Kini “Slank” , band rock n roll yang memulai karirnya sejak tahun 80an juga jelas menyatakan keberpihakan bersama si Penista Agama, otomatis dengan penguasa pula, ditandai dengan inisiasi gelaran “Konser Gue 2 Ahok”.

Inilah bukti lunturnya kemurnian seni yang seharusnya tidak dikotori dengan embel-embel keberpihakan pada ‘public enemy’ penista agama. Slank maupun Iwan Fals adalah dua musisi dan band yang walau bukan konser mereka pun bendera mereka tetap berkibar dengan gagahnya yang dibawa oleh massa.

Tetapi mereka gagal mengarahkan kapasitasnya untuk menegakan keadilan, taat ulama, apa lagi mencintai Quran. Disinilah pandangan saya terhadap para musisi mana pun yang memang kebanyakan orientasinya hanya uang belaka. Tidak untuk sebagai mencerahkan masyarakat apa lagi mengajak berpikir orang banyak untuk mewujudkan situasi ‘adil dan beradab’.

Saya jadi bersyukur Allah tidak menjadikan saya sebagai musisi dunia sungguhan yang terkenal. Sebab bila saja saya seorang pemusik ternama belum tentu saya mampu mengingat serta mencintai Allah dan berada dalam barisan para ulama. Ya Allah terima kasih ya Allah, istiqomahkan kehijrahan ini yaa Rabb.

Baiklah, sudah waktunya mengucapkan “selamat tinggal pada Slank dan Iwan Fals” ternyata mereka hanya musisi sama dengan yang lain, yang berusaha main aman sambil berusaha keras supaya langgeng terus dalam karir pentasnya.

Bagi sahabat-sahabatku, sudah waktunya berlepas diri pada pembelaan terhadap idola kalian yang melindungi penista agama. Sebab itu hanya akan menggiring pada nuansa kemunafikan. Orang munafik akan berada dikerak neraka paling bawah.

Tetapi Apakah malaikat akan tanya “siapa musisi atau band favoritmu di akhirat kelak?”…
Perhatikan, jangan berlebih-lebihan pada idola dunia. Sang Idola tetap akan dan bahkan makin kaya dengan jeripayah pentasnya. Sedangkan penggemar tetap pada taraf hidup yang tidak berubah, tetapi rela melakukan pembelaan terhadap yang idola itu sendiri bela.

Dengan musik pula, mereka mencoba menggeser kita dari agama. Menjauhkan pelan-pelan sampai pada ketidak banggaan kita terhadap agama. Jika para artis dan musisi itu menyatakan tegas keberpihakannya pada penguasa dan penista. Masih malukah kita memilih berpihak pada para pewaris Nabi yakni ulama dan Allah?…

Wallahua’lam

One comment

  1. Ga tau kenapa Gua dari dulu kurang suka sama “musisi-musisi” ini. Saat kumpul sama temen-temen sambil gitaran dan mereka nyanyiin lagu “musisi-musisi” ini pun gua lebih milih pergi.mungkin ini jawaban nya haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *